UGAMO MALIM

Ajaran Ugamo Malim sebagai sistem religius berasal dari kepercayaan Batak kuno, yang terintegrasi dalam totalis ritus kehidupan masyarakat Batak sebagai komunitas, menyatu dengan system kepemimpinan/kerajaan. Hadebataon adalah bagian integral palsafah kehidupan Batak yang dikenal dengan sisis-sia ni Habatahon na marsuhi ni ampang naopat. Sisia-sia ni Habatahon merupakan lima (5) dasar filosofis – dan identitas yang terdiri dari : MAR- Patik, MAR- Uhum, MAR- Adat, Mar -Harjaon, MAR-Debata, dan dianggap sebagai ideologi manusia Batak bermartabat, baik sebagai peroangan, kelompok, komunitas, maupun sebagai ‘bangso’. (sangat mirip dengan Pancasila). Marsuhi ni ampang na opat maksudnya masing-masing dikekang dengan pakem “Tetralogi” seperti dasar ‘ampang’ (bakul), empat sudut dengan satu mulut bulat utuh.

System kepercayaan Batak kuno dengan entitas “MAR-DEBATA” diperkirakan sudah berkembang pada masa Tanah Batak dipimpin oleh malim  (utusan Tuhan) bernama Raja Uti (Raja Malim/Raja Hatorusan) dengan pokok ajaran “suhini ampang na opat Hadebataon-Hamalimon” yaitu 4 tatanan ke-Tuhanan TONA-PODA-PATIK-UHUM (tetralogi marsuhi ni ampang na opat), berwujud dalam berbagai ketentuan ritual kehidupan dan upacara-upacara. Secara fisik religiusitasnya diwujudkan dalam kegiatan ritual kehidupan masyarakatnya, yang pelaksanaanya di wilayah “BIUS” diaturkan oleh Raja Parbaringin disetiap wilayah seperti Asean Taon, di kampung atau huta dan horja diaturkan oleh Raja Huta dan Uluan, dalam keluarga dipimpin oleh tetua bijaksana berupa ritual seperti “MAR-SANTI” berupa ritual ibadah sederhana mempersembahkan “PARBUE SANTI” di hari Samisasa. (Ini erat kaitannya dengan nama rumah induk keluarga atau pun tempat tersendiri sebagai tempat pelaksanaannya jadinya disebut “Ruma Parsantian” bukan ‘parsaktian’. Seluruh kegiatan terkait diatas dinamakan “marugamo” sebagai bagian integral dari tatanan “SISIASIA NI HABATAHON”. Aspek “Mardebata” pada zaman itu mendominasi sendi sendi kehidupan, hampir dalam semua aktivitasnya, seperti rutinitas pertanian, membangun rumah, membuka ladang baru, membangun ‘huta’, samapai ke aktivitas hajatan sosial (mar-ulaon). Tidak hanya dalam wujud ritual (doa dan persembahan), sebagian hanya dalam bentuk tari, musik ‘gondang’, dan sastra seperti “umpasa” sebagai media persembahan atau doa “Mardebata”.

Sistem kepercayaan ‘implisit’ tersebut kemudian bertransformasi ke bentuk “mardebata-eksplisit” menjadi Ugamo Malim pada kira-kira abad ke-19. Tanah Batak kala itu dipimpin oleh raja yang bijaksana dan berkarisma, yaitu Raja Sisingamangaraja, berpusat di Bakara, berlokasi di tepi danau Toba berlangsung secara turun temurun dan dipangku selama 12 generasi. Raja Si Singamangaraja tidak hanya memimpin sebagai Raja/Penguasa pemerintahan, tetapi serta merta merupakan Malim (utusan Tuhan) sebagai Pemimpin Spiritual yang membimbing rakyatnya menaati Tuhan Mulajadi Nabolon. Dalam hal ini Sisingamangaraja menjalankan bagian tetralogi Raja yang diemban, “sumingahon Uhum, sumingahon Patik, sumingahon Adat, sumingahon Hamalimon” . Raja Sisingamangaraja kepada para Parbaringin di setiap wilayah bius, memberi tanggungjawab sebagai sub ordinat ‘Raja’ pemerintahan dan sebagai pembimbing spritual ke-Tuhanan HAMALIMON. Dengan demikian Parbaringin sebagai pemimpin bius, sekaligus resmi mengemban tugas ahli ugamo (imam), atau pemimpin umat di wilayahnya. Sisingamangaraja menyematkan ketentuan “hamalimon” pada setiap perhelatan penabalan/pengesahan Parbaringin. Disini terlihat suatu ‘struktur’ primordia “Agama” secara eksplisit sedang dibagun. 

Sejrah Ugamo Malim tidak bisa dipisahkan dengan masa penjajahan Belanda, khususnya di Tanah Batak. Kebijakan kolonial Belanda yang akhirnya merasa harus menduduki Tanah Batak, yang sebelumnya dianggap sebagai ‘penyangga’ kekuatan lawannya di Aceh dan Minangkabau, tiba-tiba mengusik kerajan Sisingamangaraja -Bakkara yang sebelumnya seakan terisolasi itu. Kebijakan ini diambil sembari memenuhi nasehat ahli, “menyanggupi permintaan perlindungan oleh Missionaris yang merasa tidak aman bergerak ke Utara memasuki wilayah Toba. ) Tatkala pengaruh asing melanda tanah Batak melalui penyebaran agama Islam dan Kristen, serta penjajahan Belanda, mengakibatkan kegoncangan sosial politik di Tanah Batak. Begitu juga aspek spiritual/kepercayaan yang ketika itu dibina oleh para Parbaringin selaku pembantu utama Raja Si Singamangaraja di setiap Bius semakin rentan kekuatan dan keimanannya tergerus oleh pengaruh luar yang dahsyat. Tahun 1890 beliau memutuskan membina secara langsung sistem kepercayaan leluhur Batak itu dan dilabel dengan sebutan Ugamo. Sisingamangaraja mengangkat Raja Mulia Naipospos sebagai parbaringin. Suatu waktu Sisingamangara mengamanatkan agar kelak mendirikan “Bale Pasogit” sebagai pengganti “Bale Pasogit”-nya di Bakkara yang telah dibakar Belanda.

Dalam situasi gentingnya ‘invasi’ Belanda plus politik ‘devide et impera’ nya dan ‘aneksasi-keyakinan’ oleh missionaris Zending Kristen ke seluruh penjuru wilayah kekuasaan Sisingamangaraja, kekuatan Parbaringin, raja-raja bius tergerus satu persatu, keyakinan dan kestian rakyat Batak pun terus tergerus. Tiba-tiba di tahun 1900-an ada sosok mengaku sebagai sahala Raja Nasiakbagi-Patuan Raja Malim. Beliau kentara bertindak sebagai “MALIM” dan tidak mengurusi politik maupun pemerintahan. Orang banyak menganggap beliau adalah Sisingamangaraja, namun selalu dibantahnya, dan sering menunjukkan diri kepada para muridnya dengan berubah bersalin rupa, sering berucap: “Sungguh saya adalah ‘Nasiakbagi’ (yang penuh derita), tidak punya kuasa, kerajaan atau istanana. Saya hanya mengemban “Patindang Hamalimon” miliknya Mulajadi Nabolon”. Beliau sering memperkenalkan diri dengan nama yang berbeda-beda. Beliau menjadi guru “hamalimon”, berusaha mengumpulkan para Parbaringin dan orang-orang Batak yang masih berpegang pada Habatahon, bertahan dengan kebenaran dan hamalimon, menyembah Mulajadi Nabolon.  Dalam mengajar para murid beliau senantiasa menyampaikan bahwa, agar berkenan dihadapan Mulajadi Nabolon, hendaklah kalian senantiasa (menjadi, berperilaku) “MALIM”. Ajarannya akhirnya dinamakan Ugamo Malim. (Kegiatannya berkelana mengumpulkan para Parbaringin dan murid-murid lainnya, mengajarkan Hamalimon dilakukan berwujud penyamaran-penyamaran, berpindah-pindah. Karena pihak asing selalu memburunya.)

Setelah peristiwa 17 Juni 1907 (gugurnya Ompu Pulobatu / Sisingamangaraja XII) dielu-elukan Belanda, kondisi semakin sulit. Jangkauan pergerakan Raja Nasiakbagi semakin sempit, pihak Belanda menangkapi murid-muridnya dan orang-orang yang mengaku bertemu Nasiakbagi atau Sisingamangaraja bahkan membicarakannya saja. Belanda terus mengusut dan menginterogasi penduduk terkait sosok yang mengacaukan logika “gugurnya Sisingamangaraja XII”. Salah satu Parbaringin murid Raja Nasiakbagi, Raja Mulia Naipospos berulangkali diinterogasi, dan keluar masuk penjara Belanda. Suatu ketika (sekitar tahun 1910) Raja Nasiakbagi masuk penjara Belanda di Balige menggantikan muridnya Raja Mulia. Tentu disambut baik pihak Belanda, yang merasa menemukan pemecahan misteri “sosok yang dianggap Sisingamangaraja” dapat dipenjarakan dengan mudah, ‘menyerahkan diri’. Ketika Raja Mulia datang kembali hendak menjenguk ‘gurunya’, pihak penjara menyatakan “sosok” Raja Nasiakbagi sudah menghilang.  )

Tak lama berselang, dalam perjalanan keliling Toba, Raja Nasiakbagi  berpesan kepada Raja Mulia untuk meneruskan “pekerjaanya”, dan saat itu adalah akhir kemunculan sosok Nasiakbagi. Setelah Raja Mulia bersedih ‘kehilangan guru’ sekaligus memikul amanah mengajarkan Ugamo Malim. Raja Mulia mengunjungi dan mengorganisir pengikut Raja Nasiakbagi hingga ke berbagai pelosok, dengan sangat hati-hati, bahkan harus tertutup menghadapi tantangan dan tekanan dari sikap pemerintah Belanda yang didukung oleh Zending Kristen kala itu.  Raja Mulia dan pengikutnya masih mengalami penangkapan dan intimidasi berulang-ulang, bahkan dituduh memimpin dan menghasut penduduk melakukan perlawanan – pemberontakan seperti Parhudamdam.

Parmalim mengalami diskriminasi dan stigma negatif yang dianggap tidak ber-AGAMA, tidak ber-Tuhan, disebut penyembah setan, pemuja roh leluhur dan lain sebagainya. Pada masa penjajahan anak-anak Parmalim tidak bisa bersekolah, karena saat itu sekolah masih didominasi / “dikuasai” Zending Kristen. Pada tahun 1939, Raja Ungkap Naipospos putera Raja Mulia Naipospos mendirikan sekolah bagi anak-anak Parmalim bernama PARMALIM SCHOOL di Hutatinggi, dimulai dari Raja Ungkap menjadi guru seorang diri. Sekolah ini ditutup setelah kemerdekaan RI, dimana anak-anak Parmalim bisa bersekolah di SR.

Hingga era kemerdekaan diskriminasi terhadap Parmalim maupun Kepercayaan lainnya di Nusantara, terus berlanjut sekalipun dengan berbagai dinamika yang berbeda. Hingga saat ini 74 tahun Indonesia merdeka misalnya, secara FORMAL penghayat Kepercayaan tidak diterima mendaftar di POLRI dan ABRI dengan alasan tidak terdapat Kepercayaan sebagai pilhan identitas Agama. Sekalipun sudah ada berbagai regulasi, seperti Permendikbud tentang Layanan Pendidikan Kepercayaan si satuan pendidikan, terakhir Putusan MK tentang pencantuman Kepercayaan di KTP, diskriminasi/ sigmatisasi negatif masih berlanjut. Di hampir semua lembaga, instansi pemerintah dan swasta yang menerbitkan formulir biodata berisi identitas AGAMA tidak/belum mencantumkan Kepercayaan. Keadaan formulir semacam ini terutama yang berbentuk online sangat mengganggu kenyamanan warga penghayat Kepercayaan, misalnya saat mendaftar ke Perguruan Tinggi Negeri. Pengisian data akan berhenti / rejected kalau tidak memilih Identitas Agama.

Sejarah Kepemimpinan dalam Ugamo Malim

Raja Sisingamangaraja dan Raja Nasiakbagi
Raja Sisingamangaraja sebagai sebagai raja juga sekaligus Malim dan Imam bagi orang Batak, mengajarkan dan menegakkan titah menyembah dan memuja Sang Pencipta, Tuhan Mulajadi Nabolon. dalam ajarannya beliau menamakan diri Raja Nasiakbagi-Patuan Raja Malim (kira-kira hingga tahun 1910). Hal ini seturut dengan pahit getirnya hidup beliau selama menegakkan Ugamo Malim sebagai perintah Tuhan. Dan agar kelak pengikutnya mengenang dan meneladani pengorbanan dan penderitaan Raja Nasiakbagi menegakkan dan menjalankan Ugamo Malim.

Raja Mulia Naipospos
Raja Nasiakbagi mengamanahkan kepada muridnya Raja Mulia Naipospos untuk memimpin pengikutnya dan menyebarkan Ugamo Malim. Ihutan Bolon Par-Malim disebut juga Induk bolon (Pemimpin Besar). Setelah diangkat dan ditabalkan oleh sang malim Raja Nasiakbagi sebagai generasi I pemimpin Parmalim, Raja Mulia Naipospos pun menjadi sasaran penangkapan oleh pemerintah Belanda. Pengikut Parmalim juga mengalami berbagai kekerasan, baik oleh pemerintah Belanda dan juga oleh oknum masyarakat Batak sendiri “yang telah masuk agama Kristen”. Banyak juga diantara murid-murid Sisingamangaraja -Raja Nasiakbagi yang tidak mampu bertahan beragama Ugamo Malim, menyerah kepada saudara, atau bahkan anak-anaknya sendiri.  Dalam perjalanannya Raja Mulia Naipospos terus mengalami tekanan, keluar masuk penjara bersama para muridnya hingga pada usianya yang sudah sangat renta, terakhir di masa penjajahan Jepang. Raja Mulia berusaha keras membina pengikutnya bertahan dalam situasi yang sedemikian sulit, karena keyakinan teguhnya kepada Mulajadi Nabolon dan gurunya Raja Nasiakbagi. Raja Mulia Naipospos wafat di tahun 1956.

Raja  Ungkap  Naipospos
Selanjutanya puteranya bernama Raja  Ungkap  Naipospos,   meneruskan  kepemimpinan  pada  tahun  1956 sebagai Ihutan Parmalim generasi ke II. Beliau menulis ajaran dan menyebarkannya kepada seluruh Parmalim. Juga membuat ajaran-ajaran tertulis Pengorganisasian Parmalim secara administratif dimulai di masa ini, dan Ugamo Malim Hutatinggi-Laguboti, terdaftar pada inventarisasi Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (Depdikbud) pada tahun 1980. (SKT nomor :  I.136/F.3/N.1.1/1980, Depdikbud RI). Raja Ungkap wafat pada hari Senin tanggal 16 Pebruari 1981.

Raja Marnangkok Naipospos
Setelah Raja Ungkap wafat, ketiga putranya diketahui mendapat amanah untuk melanjutkan “Tugas berat yang diemban kakek mereka Raja Mulia” secara bersama sebagai “tiga serangkai”. Putera sulungnya Raja Marnangkok Naipospos, memikul tanggung jawab berikutnya sebagai Ihutan Parmalim generasi ketiga. di masa ini dilaukan  pemeliharaan dan renovasi bangunan fisik Bale Pasogit dan menambah bangunan pendukungnya dengan swadaya umat Parmalim. Dalam upaya meningkatkan pembinaan Parmalim. Masa beliau dengan adik bungsunya Raja Monang Naipospos, mengumpulkan dan membukukan ajaran dan bimbingan tertulis (berupa peper lepas-lepas yang dibuat Raja Ungkap Naipospos) dan  disebarluaskan di kalangan parmalim yang jumlahnya semakin banyak. Raja Marnangkok Naipospos wafat tahun 2016.

Raja Monang Naipospos
Kepemimpinannya diteruskan Raja Monang Naipospos sebagai Ihutan Parmalim keempat sejak tahun 2017. Raja Monang Naipospos yang sejak lama aktif dalam upaya-upaya pemberdayaan dan pembaharuan Parmalim, kedepan mencanangkan para pengikutnya kedepan lebih menguatkan penerapan nilai-nilai HAMALIMON dalam praktik kehidupan nyata, sesuai dengan kredo: “Parmalim Naimbaru mulak tu hapitaon hasintaongan hamalimon”. Memulai babak baru melakukan pembinaan warga parmalim secara intensif, terpadu. Pembinaan dirangkaikan bersama-sama melalui lembaga Ugamo Malim sebagai sarana religius-spiritual dan melalui organisasi Punguan Parmalim. Sejak lama, Raja Monang Napospos dikenal sebagai tokoh Parmalim sering berkomunikasi dengan pihak eksternal, juga narasumber Habatahon.

copyright © 2019 parmalim.com