PEREMPUAN PARMALIM

Dalam kepercayaan Parmalim, derajat perempuan (ina) tidak sama dengan laki-laki (ama).

Siboru Deak Parujar adalah Putri dari Ompung Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa), yang menempa (membentuk) rupa daripada bumi. Dan meminta izin dari Ompung Mulajadi Nabolon agar bentuk bumi yang ditempa nya disempurnakan, dan meminta Izinnya agar bumi ini diberikan Izinnya untuk ditempat tinggali oleh keturunan dari Siboru Deak Parujar.

Hal inilah yang membuktikan mengapa di keyakinan Parmalim bahwa Portibi (dunia) ini adalah milik Ibu (atau sering disebut Ibu Pertiwi).
Hal ini juga membuktikan dalam tradisi Batak Toba, Ritual Paniaran (Marpaniaran) dilakukan oleh para Ibu, bukan kaum lelaki, diwujudkan dengan berkelilingnya para ibu sembari manortor yang menunjukkan penghormatan tertinggi kepada Siboru Deak Parujar, dan menunjukkan eksistensi derajat perempuan yang tinggi dalam aspek kehidupan.

Sosok Ina (ibu) dalam keyakinan parmalim sebagai tingkat awal adanya kehidupan, mulai dari melahirkan, menyusui hingga pemberi tahu mana yang baik dan mana yang buruk kepada anak-anaknya. Di rumah tangga Ibu juga adalah pemegang kekuasaan dirumah, mulai dari mempersiapkan segala sesuatu untuk keluarganya, hingga menjadi bendahara sepenuhnya untuk kelangsungan hidup keluarganya. Hal inilah yang benar-benar disadari oleh parmalim bahwa sosok ibu memegang peranan penting dalam segala aspek kehidupan, baik dirumah tangga, di masyarakat, maupun dalam hal keyakinan (haporseaon).

Bermula dari hal tersebut Raja Monang Naipospos (Ihutan Parmalim) merencanakan suatu lembaga khusus di internal parmalim untuk para Ina (Ibu/ perempuan).

Hal ini sangat didukung oleh Lembaga kesatuan seluruh penghayat indonesia yaitu MLKI pusat, yang mana kelembagaan perempuan yaitu PUAN HAYATI (Perempuan Penghayat Kepercayaan Indonesia) telah terbentuk. Dengan Visi dan Misi yang memang saling mendukung.

Kegiatan pun dilaksanakan, Pada tanggal 04 - 06 Agustus 2018, di Toba Hotel Parapat, Kab. Simalungun, Parmalim (terutama kaum perempuan) dan mengundang Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, MLKI, dan Puan Hayati Pusat untuk mengikuti dan melaksanakan kongres Ina parmalim I (ke-satu)



















Dari kegiatan tersebut, terbentuklah wadah/ lembaga khusus untuk perempuan parmalim, yaitu "Ina Pangampu Parmalim". Ihutan Parmalim melantik jajaran/ dewan pengurus pusat.

Setelah Ina Pangampu Pusat, di setiap daerah/ cabang Ina Pangampu daerah juga langsung dibentuk. Tidak tanggung, setelah lembaga ini resmi dibentuk dalam internal parmalim, suasananya kini berbeda, tampak para ibu mulai memperlihatkan keseriusannya untuk menunjukkan bahwa Perempuan mampu, perempuan bisa. Banyak kegiatan yang digagas, banyak produk yang dibuat, banyak rencana yang akan dilaksanakan.

Di Hutatinggi, para ibu belajar untuk membuat karya sendiri, dengan belajar serius dan kini mampu menciptakan produk sabun colek, dan sabun cuci piring sebagai produk yang sudah hampir 1 tahun bisa memasok untuk kalangan setiap warga parmalim yang berada di hutatinggi, porsea, dan ke warga parmalim di daerah lainnya, bahkan ada yang telah dijual untuk umum.

Di cabang Marihat Bandar (kab. Simalungun) para ibu berlokakarya belajar mandiri, dan mampu menciptakan produk tas dari bahan-bahan bekas, mampu mengolah buah Mengkudu menjadi serbuk Kopi yang manfaatnya luar biasa dan menyehatkan tubuh.
Kegiatan-kegiatan lainnya oleh para ibu parmalim juga kini sedang giat digagas di daerah lain untuk memperlihatkan eksistensi.

copyright © 2019 parmalim.com